Bandung – wartadaerah.com | Polemik program kartu prakerja yang diinisiasi Jokowi, belakangan ramai diperbincangkan di tengah situasi pandemi Covid-19. Setidaknya, ada delapan perusahaan yang terlibat di dalam program pelatihan online untuk 5,6 juta peserta penerima manfaat Kartu Prakerja. Setiap perusahaan yang menghadirkan pelatihan tentunya berpotensi mendapatkan pemasukan yang cukup signfikan dari program pelatihan online kartu prakerja. Terkait polemik kartu pra kerja ini Gerakan Pemuda Islam Indonesia (GPII) Jawa Barat minilai anggaran pelatihan online kartu pra kerja mahal dan menghamburkan uang negara. Hal itu diungkapkan Irwan Sholeh Amir, Ketua Gerakan Pemuda Islam Indonesia (GPII) Jawa Barat kepada wartadaerah.com, Rabu (22/4).
Dikatakannya, pemerintah sebaiknya menghentikan program pelatihan online kartu prakerja, selain kurang efektif program ini hanya membuang anggaran yang tidak relevan dengan program antisipasi dampak wabah Covid-19.
“Segera evaluasi dan gunakan anggaran untuk kebutuhan riil masyarakat”katanya.
Irwan menilai anggaran program kartu prakerja sangat besar hingga 20 T, dan alokasi 5,6 T digunakan hanya untuk membayar biaya pelatihan online. Program tersebut dipercepat di masa pandemi Covid-19 untuk menanggulangi masyarakat yang kehilangan pekerjaan karena terdampak wabah ini.
“Padahal pelatihan semacam ini bisa diakses secara gratis. Program ini sangat menghamburkan anggaran secara berlebihan”, ucapnya.
Lanjutnya Irwan, bahwa saat ini masyarakat lebih butuh bantuan, terlebih bagi orang-orang yang terkena PHK. Masyarakat dihadapkan dalam kondisi sulit, selain rawan miskin, masyarakat juga rawan kelaparan. Kebutuhan mendesak masyarakat bukan seperti program yang ditawarkan kartu prakerja.
“Masyarakat lebih membutuhkan bantuan langsung, alangkah baiknya jika anggaran pelatihan online kartu prakerja bisa dimanfaatkan menjadi bantuan langsung tunai untuk yang kehilangan pekerjaan atau kena PHK,” tutupnya.
Polemik pelatihan online ini kartu pra kerja terjadi akibat salah satu staf khusus Presiden merupakan CEO perusahaan mitra program pelatihan online tersebut. (Gun)



























