Mendongkrak IKM Tenun dan Batik Lewat Pameran Adiwastra

Jakarta,– Kementerian Perindustrian melalui Direktorat Jenderal Industri Kecil, Menengah dan Aneka terus berupaya mendorong pelaku Industri Kecil Menengah (IKM) nasional tenun dan batik untuk meningkatkan produktivitas dan inovasi agar lebih berdaya saing di pasar domestik dan internasional.

Salah satu yang dilakukan yakni melalui fasilitasi keikutsertaan pada pameran nasional Adiwastra Nusantara 2019 dengan tema Wastra Adati Generasi Digital.

“Ini merupakan salah satu upaya untuk melestarikan dan mempromosikan budaya dalam karya wastra adati Indonesia,” kata Menteri Perindustrian (Menperin) Airlangga Hartanto saat pembukaan Pameran Adiwastra Nusantara 2019 di Jakarta, Rabu.

Menperin menyampaikan tema Wastra Adati Generasi Digital menunjukkan bahwa wastra nusantara siap untuk bersaing di era ekonomi digital di mana persaingan usaha semakin kompetitif.

“Untuk menyikapi hal tersebut maka pemerintah berkewajiban meningkatkan daya saing produk dalam negeri,” jelas Menperin.

Menurut Airlangga, untuk meningkatkan daya saing tersebut pemerintah mencanangkan Making Indonesia 4.0. Pada tahap awal implementasi Making Indonesia 4.0, Indonesia akan fokus pada lima sektor prioritas yaitu: industri makanan dan minuman, industri tekstil dan busana, industri otomotif, industri elektronik, dan industri kimia.

“Sektor prioritas tersebut adalah sektor yang diyakini mempunyai daya ungkit besar dalam hal penciptaan nilai tambah, perdagangan, besaran investasi, dampak terhadap industri lainnya, serta kecepatan penetrasi pasar,” jelasnya.

Pameran ini diselenggarakan pada 20 – 24 maret 2019 di Hall A dan B Jakarta Convention Center dengan diikuti 413 stan peserta dari seluruh Indonesia. Pameran ini ditargetkan dihadiri lebih dari 40.000 orang dari seluruh Indonesia dengan nilai penjualan Rp45 miliar–Rp50 miliar.

Menperin mengatakan industri tenun dan batik yang merupakan bagian dari kelompok industri tekstil dan busana memiliki kontribusi cukup besar terhadap perekonomian nasional.

Untuk komoditi tenun dan batik pada tahun 2018 nilai ekspornya mencapai 53,3 juta dolar AS dengan negara tujuan ekspor adalah Jepang, Belanda, dan Amerika Serikat.

“Industri tenun dan batik yang banyak ditekuni oleh industri kecil dan menengah (IKM) tersebar di sentra-sentra industri. Terdapat 369 sentra IKM tenun dan 101 sentra IKM batik yang tersebar di hampir seluruh wilayah nusantara,” kata Menperin. (Ant)