Pesan Idul Adha 1440 H: Meneladani Kearifan Nabi Ibrahim AS dan Ketaatan Nabi Ismail AS

Foto: Ustad Khairul Fahmi Dasuki, SQ, S. Sos.I dalam khutbah Idul Adha 1440 Hijriah disepanjang Jl. Jakarta Mega, Cinere, Depok, Jawa Barat. (Istimewa).

Oleh: Ustad Khairul Fahmi Dasuki, SQ, S. Sos.I*

*‘Meneladani Nabi Ibrahim AS sebagai figur ayah dan ketaatan Nabi Ismail AS sebagai figur anak di era digitalisasi’*

Gemuruh takbir berkumandang dari berbagai sudut di seluruh penjuru bumi, membesarkan dan mengagungkan asma Allah SWT. Zat yang maha besar dan atas kedigjayaan-Nya mengatur semua sistem alam jagat raya ini yang berada dalam genggamamnya.

Patutlah kita bersyukur kepada-Nya di hari yanh berbahagia ini, kita masih diberikan kenikmatan- kenikmatan yang tiada terhingga. Mulai keimanan yang kokoh dalam jiwa, kesehatan yang prima dalam raga dan aneka kebutuhan lainnya yang Allah SWT cukupkan kepada kita semua.

Di waktu yang bersamaan saudara-audara kita sedang berjuang melaksanakan ibadah haji di tanah suci dari berbagai penjuru dunia. Semoga jamaah haji Indonesia dan seluruh jamaah haji se-dunia meraih haji yang mabrur. Dan jika ada diantara kita yang belum berkesempatan untuk menjadi tamunya Allah SWT, untuk mengunjungi ka’bah baitullah, semoga di tahun- tahun mendatang di takdirkan Allah SWT untuk menunaikannya. Amin Ya Rabbal Alamin.

*Allahu Akbar, Allahu Akbar, Allahu Akbar. Hadirin sidang Idil Adha Rohimakumullah.*

Di hari yang penuh kebahagiaan dan keberkahan ini marilah kita sejenak merenung seraya mengambil ibrah, pelajaran-pelajaran atas manusia-manusia hebat yang diabadikan Allah SWT dalam sejarah peradaban manusia.

Melalui khutbah ini kami akan mengetengahkan sebuah tema khutbah:
‘Meneladani kearifan Nabi Ibrahim AS sebagai sosok Ayah dan ketaatan Nabi Ismail AS sebagai anak di era digitalisasi’

*Allahu Akbar, Allahu Akbar, Allahu Akbar, hadirin sidang idil adha yang berbahagia.*

Momentum napak tilas perjuangan Nabi Ibrahim AS dan putranya Nabi Ismail AS memiliki makna yang sangat mendalam dewasa ini. Dimana peran dan figur sentral seorang ayah sangat amat dibutuhkan untuk meraih kesukesan rumah tangga sebagai pondasi atas kejayaannya suatu bangsa dan negara.

Utamanya di era digitalisasi yang saat ini begitu meraksasa bukan saja menjadi trend di Indonesia, namun hampir di seluruh negara di dunia.

*Allahu Akbar, Allahu Akbar, Allahu Akbar. Hadirin sidang Idil Adha Rohimakumullah.*

Pada masa itu, Nabi Ibrahim AS membangun rumah tangga didasari dengan nilai-nilai ketauhidan, keagamaan, dan nilai kearifan, serta kepatuhan secara totalitas kepada sang pencipta Allah SWT sebagaimana ikrar Nabi Ibrahim AS yang kemudian menjadi ikrar kita di setiap pembukaan sholat kita: inna sholati, wanusuki, wa mahyaya wa mamati lillahi robbil alamin, laa syarikalahu wabidzalika umritu wa ana awwalul muslimin, sementara kita mengucapkannya dengan wa ana minalmuslimin.

Nilai-nilai inilah yang kemudian ditransfer oleh Nabi Ibarahim As kepada istrinya Siti Hajar agar dapat mengestafetkan pola pengasuhan dan pendidikan semacam ini kepada anaknya Nabi Ismail AS, sehingga Siti Hajar sukses mengemban amanah suaminya, Karena dalam kurun waktu yang relatif lama Siti Hajar dan Nabi Ismail AS ditinggal oleh Nabi Ibrahim di Mekkah yang saat itu begitu amat sangat tandus, penuh tantangan dan rintangan.

Sementara, Nabi Ibrahim harus patuh Kepada Allah SWT atas SK yang di terbitkan-Nya agar Nabi Ibrahim segera kembali berdinas untuk menjumpai kembali istri perdananya yaitu Siti Sarah, dengan standar nilai-nilai yang sama yang dilakukan oleh Siti hajar di Mekkah. Pada akhirnya Nabi ibrahim pun meraih kesuksesan dengan Siti Sarah berhasil mencetak generasi unggul, generasi kenabian yang melahirkan Nabi Ishaq AS dan keturunan- keturunannya.

*Allahu Akbar, Allahu Akbar, Allahu Akbar, hadirin sidang idil adha yang berbahagia.*

Kewajiban kita sebagai orang tua kepada anak-anak kita adalah mendidiknya dan pendidikan yang paling utama jika kita menoleh kebelakang meneladani Nabi ibrahim AS, maka pendidikan akidah dan akhlaq sebagai landasan pertama.

Maka di era digitalisasi saat ini sudah sepatutnya smartphone yang sudah menjadi teman akrab anak- anak kita di zaman now ini, diisi dengan konten-konten yang postif, nilai nilai ketauhidan, kepatuhan, kearifan, rasa saling toleransi antar sesama dan menghormati perbedaan-perbedaan pandagan dalam berbagai aspek kehidupan
Inilah yang sesungguhnya di cita-citakan oleh sang maha desainer alam jagat raya ini, agar kita saling bekerjasama dalam kebaikan dan ketaqwa-an bukan pada kerjasama dalam kejahatan dan pembangkangan, sebagaimana yang Allah SWT tegaskan dalam pembukaan Surat Al Maidah tepatnya dipenghujung ayat ke dua.

*Allahu Akbar, Allahu Akbar, Allahu Akbar, hadirin sidang idil adha Hafidzakumullah.*

Pembangunan karakter dalam rumah tangga disinergikan oleh Nabi Ibrahim AS dengan simbol pembangunan ka’bah baitullah sebagai sentral penyembahan manusia kepada Tuhan-Nya.

Uniknya ka’bah dibangun secara bersama-Sama dengan putranya Nabi Ismail AS ini, merupakan catatan pelajaran peradaban manusia yang sangat penting dan berharga, bahwa pola kerjasama dan keakraban yang dicontohkan oleh Nabi Ibrahim AS dan Nabi Ismail AS harus dimaknai bagi setiap ayah dengan anak-anaknya sebagai pola komunikasi efektif, segaimana yg Allah kisahkan dalam Surat Al Baqoroh, Ayat 127.

*Allahu Akbar, Allahu Akbar, Allahu Akbar, hadirin sidang idil adha yang berbahagia.*

DI tengah kesibukan pekerjaan ayah di kantor, di pasar dan sebagainya, seorang ayah harus meluangkan waktunya untuk misalnya ber WA-an kepada anak-anaknya, menanyakan hal-hal yang esensial sampai pada hal-hal yang ringan dan simpel, sebagai contoh menanyakan perihal sdh sholat dzuhurkah kau nak? dan sdh makan siangkah kau dik? dan lain sebagainya. Tanpa terasa pola ini dapat menselaraskan pola hubungan yang baik antara anak dan ayah di era digitalisasi saat ini, demikian pula peranan seorang ibu yang membantu sepenuhnya, kerja-kerja rumah tangga seorang ayah.
Dalam membangun nilai nilai ketauhidan, kepatuhan, keagamaan dengan cara-cara yang mudah dan ringan, santun dan arif dan bijakasana, sehingga dampak negatif digitalisasi akan mampu dibendung, bahkan digitalisasi dapat kita manfaatkan pada sesuatu yg bersifat positif dan konstruktif.

*Allahu Akbar, Allahu Akbar, Allahu Akbar, hadirin sidang idil adha yang berbahagia.*

Dan yang terakhir, Nabi Ibrahim AS dan Nabi Ismail AS tidak pernah melewatkan untuk berdoa bersama sama, sholat bersama, mengaji bersama, bertafakkur, memuja memuji Tuhan bersama-sama dengan keluarganya. Maka disinilah peranan penting orang tua dalam memajenen waktu-waktu itu, agar meraih kehidupan yang berkualitas baik secara materi maupun spritual.

Maka sungguh wajar kemudian, jika keluarga besar Nabi Ibrahim AS menjadi viral, dan terus akan menjadi rujukan bagi setiap keluarga yang ingin meraih kebahagiaan yang abadi hingga akhirat nanti.

Kesukesesan Nabi ibrahim AS sebagai ayah, kesukesaan Siti hajar sebagai seorang ibu, kesukesaan seorang Nabi Ismail AS sebagai anak yang taat kepada Allah SWT dan kedua orang tuanya. Hal inilah yang kemudian dijadikan proyek percontohan bagi seluruh manusia yang dibalut dengan rangkaian ibadah haji yang saat ini dilaksanakan oleh 2.5 jt ummat Islam dari penjuru dunia yang berkumpul di Mekkah. Sebuah zona terjadinya perjuangan dan pengorbanan yang didasari pada nilai-nilai Ketuhanan dan Kemanusiaan.

Semoga Kita semua dapat meneladani Nabi Ibrahim AS dan Nabi Ismail AS dalam menjalankan sisa kehidupan ini dengan landasan nilai-nilai Ketuhanan dan nilai-nilai kemanusiaan. Dua nilai inilah yang sesungguhnya menjadi tolak ukur atas kesuksesan manusia baik didunia dan diakhirat. Ami Ya Rabbal Alamin.

Semoga Bermanfaat.

*Disampaikan oleh Ustad Khairul Fahmi Dasuki, SQ, S. Sos.I pada Khutbah Idul Adha 1440 Hijriyah di sepanjang Jl Jakarta Mega Cinere, Depok, Jawa Barat. Minggu, 11 Agustus 2019.

Editor: Syafrudin Budiman (Gus Din)