Warga Keturunan Tionghoa Berharap Pemilu Berlangsung Damai

Temanggung – Warga keturunan Tionghoa di Kabupaten Temanggung, Jawa Tengah, berharap spirit Tahun Baru Imlek 2570 dapat menginspirasi Pemilu 2019 berlangsung secara demokratis dan damai.

Sekretaris Kelenteng Kong Ling Bio, Lidia Sam Setyagraha di Temanggung, Selasa, mengatakan melalui pemilu yang demokratis diharapkan dapat menghasilkan sesuatu yang positif, seperti peningkatan kesejahteraan masyarakat, keamanan, dan kedamaian.

“Harapan kami Indonesia menjadi lebih baik. Kami sebagai umat pada Pemilu 2019 berusaha untuk memberikan yang terbaik buat Indonesia,” katanya.

Ia mengatakan hal tersebut di sela membersihkan rupang dewa dan altar di Kelenteng Kong Ling Bio dalam rangkaian menyambut Tahun Baru Imlek 2570.

Ia mengatakan kedamaian, keamanan, dan peningkatan kesejahteraan bagi seluruh umat dan warga Indonesia tidak henti-hentinya dipanjatkan kepada Tuhan Yang Maha Esa.

“Pemilu sebagai pesta demokrasi harus menghasilkan sesuatu yang membuat Indonesia menjadi lebih baik,” katanya.

Dalam rangkaian menyambut Imlek tahun ini, dia mengatakan antara lain dengan membersihkan rupang dewa, altar, dan peralatan sembahyang. Sebelumnya pada Senin malam dilakukan sembahyang Toa Pek Kong naik, yakni sembahyang untuk mengantar Dewa Dapur ke langit membawa catatan kehidupan orang-orang di bumi selama satu tahun terakhir.

Ia menuturkan hakikat ritual membersihkan rupang, altar, dan tempat ibadah, sebenarnya juga membersihkan diri dengan hati yang bersih dan pantang makan daging. Sedangkan pada membersihkan patung-patung dewa itu dengan air bunga dan sabun cair, kemudian dikeringkan dengan cara dijemur.

Rupang dewa yang dibersihkan dikemukakannya yang utama adalah Hok Tik Tjieng Sin (Dewa Bumi) selaku tuan rumah, yang disusul Kwan Seng Tee (Dewa Perang), dan Thiang Siang Tee (Dewa Pembasmi Semua Ilmu Hitam), Kwam Im Poo Sat (Dewa Belas Kasih), Kwang Kong (Dewa Keadilan), dan Thian Sian Sing Bo (Dewa Penguasa Air).

Ia mengatakan pada malam Tahun Baru Imlek mulai malam sampai pagi digelar sembahyang tutup tahun dengan menyalakan lilin.

“Ritual ini untuk memperbaiki nasib, yakni umur yang kurang serasi pada tahun ini dimohonkan supaya dapat terjauh dari hal buruk,” katanya. (Ant)