Ada-Ada Saja…… 10 Makam di Jakarta Pusat Diduga Fiktif

Jakarta Pusat – Suku Dinas Pertamanan dan Pemakaman Jakarta Pusat, menemukan 10 dugaan beberapa makam fiktif di tiga tempat temakaman umum (TPU). Diantaranya,6 di TPU Kawi-kawi, 3 TPU Pasar Baru Barat dan 1 TPU Karet Bivak.

Namun ada satu temuan makam fiktif yang sudah terbukti. Makam fiktif itu tertulis atas nama Sumarti yang terdapat di TPU Karet Bivak, Tanah Abang, Jakarta Pusat. Jika dilihat, pada makam fiktif itu, di batu nisannya, tidak terdapat tanggal kapan orang tersebut lahir, dan kapan orang tersebut dinyatakan meninggal. Pada batu nisan tersebut, hanya ada nama, tempat lahir tanpa tanggal, dan tempat wafat tanpa tanggal.

Padahal, biasanya di batu nisan sebuah makam terdapat nama, tempat dan tanggal lahir orang yang telah dinyatakan meninggal, serta tempat dan tanggal wafat orang itu.

“Kita menduga ada 10 makam fiktif yang ada ditiga TPU Jakarta Pusat. Tapi sejauh ini yang sudah terbukti satu di TPU Karet Bivak, dan yang lain masih kita investigasi terus,” terang Kepala Suku Dinas Pertamanan dan Pemakaman Jakarta Pusat, Munjirin, Jumat, (22/7).

Dalam batu nisan Sumiarti, hanya terdapat tulisan Ibu Sumiarti dengan tulisan lahir di Kutoarjo dan wafat di Yogyakarta, tanpa adanya tanggal lahir dan tanggal wafat. Sebelum terbukti kalau makam itu fiktif, Munjirin mengatakan pihaknya terlebih dahulu mengecek data terkait makam itu. Kemudian, pihaknya pun melakukan klarifikasi kepada ahli waris makam itu.

Setelah diklarifikasi ke ahli waris, akhirnya, ahli waris pun mengaku. Lalu, pihaknya pun meminta yang bersangkutan untuk membuat surat pernyataan atau Berita Acara Pemeriksaan (BAP) dengan materai Rp.6.000 dan diminta menyerahkan kembali makam itu ke pihak pengelola TPU.

“Kalau yang bersangkutan tidak mau mengembalikan, akan kita proses hukum, karena ini melanggar Peraturan Daerah (Perda),” tambahnya.

Namun demikian, dirinya mengaku tidak mengetahui kepada siapa ahli waris memesan makam itu. Hingga saat ini, pihaknya masih mencari siapa orang yang menawarkan jasa seperti itu.

Munjirin mengatakan, apabila terbukti ada Pegawai Harian Lepas (PHL)-nya yang bermain, ia tidak segan untuk langsung memecatnya. “Kalau memang ada PHL saya yang ‘main’ akan dipecat. Kita juga terus mencari tahu,” tutupnya. (Net/A1)