Semangat Belajar di Tengah Bencana: Ibu-Ibu di Padang Berjuang Jaga Pendidikan Anak

WartaDaerah.com, Padang – Di balik tenda-tenda pengungsian yang berdiri di halaman Akademi Maritim Sapta Samudra, Koto Tengah, Kota Padang, cerita tentang keteguhan keluarga-keluarga yang ingin memastikan anak-anak tetap bersekolah terus mengalir. Bagi Darna dan Refiarniwati, dua ibu korban banjir bandang, pendidikan menjadi hal terakhir yang ingin mereka korbankan meski rumah, perabot, dan penghidupan mereka porak-poranda.

Baju Sekolah Rusak, Tapi Sekolah Harus Tetap Jalan

Darna, ibu dari tiga anak, masih ingat bagaimana cepatnya air menerjang rumah mereka. Dalam hitungan menit, kasur terendam, barang-barang hanyut, dan baju sekolah anak-anak rusak tak lagi bisa digunakan.

“Karena kejadian yang begitu cepat kami tidak bisa menyelamatkan baju sekolah dan sepatu, baju-baju sekolah sudah tidak bisa dipakai lagi karena terendam lumpur, bahkan setelah dicuci masih agak kuning,” ujar Darna di Akademi Maritim Sapta Samudra, Koto Tengah, Kota Padang, pada Jumat (5/12/2025).

Meski hanya memiliki satu set pakaian layak pakai untuk sekolah, Darna tetap meminta anaknya hadir di kelas.
“Anak kami juga sudah menemui kepala sekolah untuk meminta dispensasi karena tidak ada baju sekolah yang layak pakai,” tuturnya.

Baginya, kehilangan harta benda bukan alasan untuk menghentikan pendidikan anak.
“Alhamdulillah kami sekeluarga baik-baik saja…” katanya, sembari berharap ada bantuan kasur agar anak-anak bisa beristirahat lebih nyaman seusai belajar.

“Mudah-mudahan ada bantuan kasur, walaupun kasur Palembang gitu saja,” tambahnya.

Kuliah Daring dari Pengungsian

Sementara itu, Refiarniwati menghadapi tantangan yang berbeda. Putrinya yang sedang duduk di semester I Politeknik ATI Padang sempat trauma karena kejadian banjir saat ia sendirian di rumah.

“Ketika air masuk dia langsung lari meninggalkan rumah… arus air sudah deras dan dia terkena batang kayu. Kakinya memar, Alhamdulillah tidak ada luka. Tapi karena itu dia cukup trauma,” jelasnya.

Meski demikian, sang anak tetap mengikuti kuliah yang saat ini digelar secara daring. Refiarniwati terus memberi semangat agar putrinya tidak menyerah.

“Padahal baru beli bukunya… Ibu bilang tidak usah dipikirin yang sudah lalu, kita pikir ke depannya lagi, karena masih dua tahun lagi kuliahnya,” ujar dia.

Buku-buku dan perlengkapan kuliah yang rusak tidak menyurutkan tekad mereka. Bagi keluarga ini, pendidikan adalah masa depan yang harus dipertahankan, meski harus mengikuti kelas dari tengah pengungsian.

Trauma Healing untuk Anak, Dukungan untuk Belajar Kembali

Ketua RT 01/RW 04, Hafardi, menyebutkan berbagai pihak telah hadir memberikan dukungan pemulihan psikososial bagi anak-anak.

“Ada tiga acara trauma healing… dari Universitas Putra Indonesia (UPI) YPTK Padang, dari Kemkomdigi (Kementerian Komunikasi dan Digital), dan nanti hari Sabtu dari IAIN Imam Bonjol Padang,” ungkapnya.

Kegiatan ini bukan hanya untuk menghapus trauma, tetapi juga membantu anak-anak kembali percaya diri untuk kembali ke sekolah.

“Semoga dengan acara ini seluruh warga, khususnya anak-anak, terus bersemangat untuk kembali bersekolah dan beraktivitas seperti biasa,” tutup Hafardi. (red)