Wartadaerah.com, Aceh Tamiang – Di bawah langit biru yang kini cerah membentang di Aceh Tamiang, Midah, seorang ibu rumah tangga yang wajahnya masih menyiratkan kelelahan sisa bencana, berdiri memandang layar ponselnya. Tidak ada lagi raut panik seperti hari-hari kemarin saat banjir merendam dan lumpur memutus akses jalan. Hari itu, di sudut layar ponselnya, bar sinyal itu telah penuh kembali.
Bagi Midah, salah seorang warga Medang Ara di kecamatan Karang Baru, Kabupaten Aceh Tamiang, saat ditemui, Rabu (14/1/2026), mengatakan baginya menara BTS (base transceiver station) yang menjulang gagah di dekat pemukimannya bukan sekadar tiang besi penyebar gelombang. Menara itu adalah “tali penyambung nyawa” yang sempat putus saat bencana datang menghantam.
“Waktu banjir kemarin, rasanya seperti terkurung dalam gelap,” kenang Midah. Air bah tidak hanya menghanyutkan harta benda, tapi juga menenggelamkan suara warga. Sinyal hilang, listrik padam. Midah tak bisa memberi kabar pada kerabat, tak tahu harus meminta tolong ke mana.
Namun, kecemasan itu perlahan surut seiring surutnya air dan kembalinya jaringan telekomunikasi. Perubahan paling nyata yang dirasakan Midah bukan pada keringnya lantai rumah, melainkan pada dering telepon yang kembali terdengar. “Ini jaringannya Alhamdulillah sudah lancar. Kemarin waktu banjir memang agak lelet, tapi sudah beberapa hari ini udah enak untuk komunikasi keluarga juga,” ujarnya dengan nada lega.
Dengan jujur dan apa adanya, Midah menceritakan pengalaman digitalnya pascabencana. Sebuah pengakuan polos yang justru menggambarkan betapa berharganya konektivitas dasar bagi warga desa. “Sinyal stabil, meski kalau lihat YouTube anak-anak masih sedikit lemot, tapi kalau untuk komunikasi lancar-lancar saja. Mudah-mudahan begini terus,” tuturnya sembari tersenyum kecil.
Bagi Midah, tak masalah jika hiburan sedikit tersendat, asalkan suara sanak saudara di seberang sana terdengar jernih memastikan keselamatan mereka.
Gerak Cepat di Balik Layar
Senyum Midah adalah buah dari kerja keras pemulihan yang dikebut pemerintah. Menteri Komunikasi dan Digital, Meutya Hafid, yang meninjau langsung lokasi BTS terdampak yang sudah dipulihkan di Aceh Tamiang pada Minggu (28/12/2025), menegaskan bahwa konektivitas adalah kunci pemulihan. “Akses komunikasi warga berangsur pulih. Kini warga bisa kembali mengabari keluarga, mengakses informasi, dan mengurus kebutuhan dasar,” ungkap Meutya.
Sang Menteri menyebutkan bahwa progres pemulihan jaringan di wilayah terdampak secara umum telah melampaui 95 persen. Meski di beberapa titik sulit seperti sebagian Aceh Tamiang, Bener Meriah, dan Gayo Lues, performa jaringan masih di kisaran 60-80 persen karena kendala pasokan listrik, namun bagi warga seperti Midah, sinyal yang ada sudah cukup untuk menyambung harapan.
Tak hanya sinyal, Kemkomdigi juga mengirimkan 118 tangki air bersih berkapasitas 8.000 liter. Bantuan ini krusial mengingat sumber air warga tercemar lumpur banjir.
Harapan yang Tersisa di Reruntuhan
Sinyal sudah di tangan, air bersih sudah datang, namun mata Midah kembali sendu saat menoleh ke arah rumahnya. Banjir telah berlalu, tetapi jejak kehancurannya masih nyata. Dinding yang retak dan perabotan yang rusak menjadi saksi bisu ganasnya alam.
Konektivitas yang lancar memberinya keberanian untuk menyuarakan satu harapan lagi. “Mohon bantuannya lah Pak, rumah hancur, perbaikan juga perlu. Kalau bisa direnovasi,” ucap Midah, menitipkan pesan lewat sinyal yang kini telah lancar itu.
Di Aceh Tamiang, menara BTS itu kini berdiri sebagai saksi kebangkitan. Ia tidak hanya memancarkan sinyal 4G, tetapi juga memancarkan doa dan harapan Midah serta ribuan korban lainnya agar kehidupan mereka bisa benar-benar utuh kembali. (red)

























